Sabtu, 09 April 2016

Motivasi terbesar ada dalam diri sendiri

Proses membangun motivasi , 
Yang paling berperan penting dalam membangun motivasi adalah diri kita sendiri. Semua bisa kita hadirkan dari renungan, renungan bukan hanya sekedar renungan ( 1/3 malam yg akhir adalah waktu yang paling tepat untuk mendekatkan diri pada sang Khalik, dan juga menjadi saat terbaik untuk mengenungi apa2 saja yang telah di lakukan baik hal-hal yang salah atau hal-hal yang benar) . Adalah sebuah keharusan bagi diri ini untuk melakukan koreksi diri, karena rasa drop down yang berlebihan dapat menurunkan, motivasi diri, semangat hidup, membelokkan harapan dan impian. 
Imbangi lah dunia mu, dengan mengingat akhirat. 1/3 malam juga baik untuk anak-anak ,untuk menghafal baik pelajaran atau pun menghafal al-quran. Setiap manusia terlahir menjadi sang pemenang, dan memiliki impian serta harapan. Meski kadang di dalam proses nya, banyak hal yang membuat kita lupa akan impian utama dan terlena ke dalam ke sedihan, kekecewaan, atau pun kemalasan. Jd mari bangun kembali motivasi diri dengan mengingat tujuan kita hidup, impian kita, orang tua kita, dan hal-hal yang baik lain nya. Ingat lah kita tidak bisa membeli waktu, untuk bisa di putar kembali. Jika kau merasa letih dalam berproses menggapai impian mu, maka ingat lah sudah sejauh mana kau berjuang, seberapa banyak waktu yang telah kau lewati dan berapa banyak manusia yang selalu mendukungmu ? Fikirkanlah baik-baik, Allah SWT selalu memberikan jalan bagi yang mau berusaha, selalu ada tawa di sela tangis, selalu ada jawab di sela tanya dan selalu ada mentari di tengah gerimis. Jangan mudah terjatuh,ketika jatuh berpegang teguhlah pada sang Khalik. 
Sebaik-baiknya tempat berharap ialah hanya berharap kepada Allah SWT(sang khalik) yang maha pengasih lagi maha penyayang. 
#mirivasi terbesar ada dalam diri kita sendiri #sampaikan walau hanya satu ayat.

Rabu, 06 April 2016

Kejujuran dari penantian panjang, jujur hati ini mulai lelah bukan sabar yang berbatas. Namun, engkau yang tidak kunjung kembali lah yang membuat butiran-butiran Doa itu menjadi meleleh di terjang hujan, sabar memang tidaklah berujung, yakin pun tidaklah memudar, namun kematangan logika, membiarkan diri ini untuk menutup nya, bukan hilang harapku, hanya hilang asa ku yang berujung kepada keputus asaan dalam penantian. Rasa dalam jiwa masih terasa bergejolak, berharap dan menanti saat dimana engkau hadirkan kembali pertemuan yang sederhana berbalut kasih tulus.
Bukan hati yang menyerah hanya saja logika mencoba pasrah. Tatapan tulus, belum lagi ku jumpai. Hingga titik ini hadir logika berbisik lirih "saatnya hatimu merumahkan rasa mu" sedih tiada berujung, jika terus menanti. Bahkan bayangan nya saja pun tidak pernah hadir. Di sinilah ilmu ikhlas patut diterapkan meski pada realisasinya kita tidak lah mudah mengimplementasikannya. Dunia, teramat luas. Kini hatimu dan hatiku sudah tidak berpaut antara satu dengan yang lain. Tidak terdapat lagi singkonisasi, terciptanya jarak dan ruang yang semakin meluas dan mencamppakan rasa yang besar menjadi rasa yang mati. Bukan salah penantian, bukan salah hati berharap hanya logika memberi isyarat untuk merumahkan rasa. Hanya rasa yang ku rumahkan, dalam-dalam tidak dengan doa-doa. Semua masih terdengar sama nan indah,menawan..doa tidak akan memudar, meski di terpa jarak.
Berhenti di sini, dan kembali menatap langin yang biru barangkali di sana dapat kutemukan yang lebih baik darimu.
Melepaskan nya pada saat itu mungkin adalah cara terbijak dan aku akan berusaha berjalan seperti biasa dengan segala ketegaran yang ku pondasi dengan kokoh.

Hanya mengharapkan sang khalik memberikan jalan terindahnya dalam keistiqomahan menanti dalam diam.

Selasa, 05 April 2016

Satu kesempatan

Kita dahulu hanya dua insan yang sedang berproses, belajar, dan mencoba memahami hal-hal baru di dalam kehidupan. Kita tidak terlalu faham, akan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Hanya berusaha, saling menatap dan melihat di sudut mata itu ada kesejukkan. Senyum yang selalu mengembang, tawa yang ringan, kemudian berkembang menjadi cerita yang mengharu biru, ada sedikit rasa kesal, rasa kecewa, amarah namun tidak dengan dendam. Itu lah, yang selalu aku pertanya kan mengapa hati tidak pernah mendendam meski amarah itu ada ?
Sungguh ini dilema, satu sisi kita fahami dulu kita berjanji berjalan beriringan sampai banyak nya ujian menghadang dan kita terhempas jauh,tetapi tidak dengan rasa yang ku punya.
Jika aku memiliki sedikit waktu untuk jujur 
Ingin ku sampaikan kepada kamu , bahwa sampau saat ini aku masih menanti kamu yang telah jauh terhempas dan lepas. Aku ingin menatap mu lebih dalam hingga aku temukan jujur mu juga, ingin aku melihat masih adakah kesejukan itu buat ku ?
Elegi-elegi itu semakin hari semakin sesak meminta untuk keluar, namun apalah daya ku. Aku tidak dapat kesempatan itu, dan mungkin kesempatan itu memang sudah tidak ada buatku.
Apakah aku harus menutup mu sebagai kumpulan sejarah? Sebab terkadang semua terasa kering nan hampa, tanpa kata dan sejukmu. 
Namun cinta melunakkan duka dan memupuk subur harapan dan impian, akankah kita di pertemukan kembali ?
Izinkan aku menatapmu sekali lagi saja, datang lah wahai sang waktu, datang lah wahai sang kesempatan.
Rindu dan penantian menahun ini, terus menciptakan harapan-harapan baik untukmu yang selalu ada dalam Doa ku.
Semua ini memang tidak mengharap balas, hanya mengharap sebuah kesempatan. Untuk dapatkan jawaban jujur dari sang mata, jua hati, di sudut mata terdalam akan ada kejujuran yang terbaca, dari sanalah aku akan mengambil keputusan. Apakah akan tetap menantimu dan memupuk subur harapan dan impian ataukah aku menguburmu menjadi sejarah, yang kusisihkan di relung hati terdalam.
Berilah satu waktu itu, agar semua nya tidak menjadi penantian belaka.