Sungguh ini dilema, satu sisi kita fahami dulu kita berjanji berjalan beriringan sampai banyak nya ujian menghadang dan kita terhempas jauh,tetapi tidak dengan rasa yang ku punya.
Jika aku memiliki sedikit waktu untuk jujur
Ingin ku sampaikan kepada kamu , bahwa sampau saat ini aku masih menanti kamu yang telah jauh terhempas dan lepas. Aku ingin menatap mu lebih dalam hingga aku temukan jujur mu juga, ingin aku melihat masih adakah kesejukan itu buat ku ?
Elegi-elegi itu semakin hari semakin sesak meminta untuk keluar, namun apalah daya ku. Aku tidak dapat kesempatan itu, dan mungkin kesempatan itu memang sudah tidak ada buatku.
Apakah aku harus menutup mu sebagai kumpulan sejarah? Sebab terkadang semua terasa kering nan hampa, tanpa kata dan sejukmu.
Namun cinta melunakkan duka dan memupuk subur harapan dan impian, akankah kita di pertemukan kembali ?
Izinkan aku menatapmu sekali lagi saja, datang lah wahai sang waktu, datang lah wahai sang kesempatan.
Rindu dan penantian menahun ini, terus menciptakan harapan-harapan baik untukmu yang selalu ada dalam Doa ku.
Semua ini memang tidak mengharap balas, hanya mengharap sebuah kesempatan. Untuk dapatkan jawaban jujur dari sang mata, jua hati, di sudut mata terdalam akan ada kejujuran yang terbaca, dari sanalah aku akan mengambil keputusan. Apakah akan tetap menantimu dan memupuk subur harapan dan impian ataukah aku menguburmu menjadi sejarah, yang kusisihkan di relung hati terdalam.
Berilah satu waktu itu, agar semua nya tidak menjadi penantian belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar