Rabu, 06 April 2016

Kejujuran dari penantian panjang, jujur hati ini mulai lelah bukan sabar yang berbatas. Namun, engkau yang tidak kunjung kembali lah yang membuat butiran-butiran Doa itu menjadi meleleh di terjang hujan, sabar memang tidaklah berujung, yakin pun tidaklah memudar, namun kematangan logika, membiarkan diri ini untuk menutup nya, bukan hilang harapku, hanya hilang asa ku yang berujung kepada keputus asaan dalam penantian. Rasa dalam jiwa masih terasa bergejolak, berharap dan menanti saat dimana engkau hadirkan kembali pertemuan yang sederhana berbalut kasih tulus.
Bukan hati yang menyerah hanya saja logika mencoba pasrah. Tatapan tulus, belum lagi ku jumpai. Hingga titik ini hadir logika berbisik lirih "saatnya hatimu merumahkan rasa mu" sedih tiada berujung, jika terus menanti. Bahkan bayangan nya saja pun tidak pernah hadir. Di sinilah ilmu ikhlas patut diterapkan meski pada realisasinya kita tidak lah mudah mengimplementasikannya. Dunia, teramat luas. Kini hatimu dan hatiku sudah tidak berpaut antara satu dengan yang lain. Tidak terdapat lagi singkonisasi, terciptanya jarak dan ruang yang semakin meluas dan mencamppakan rasa yang besar menjadi rasa yang mati. Bukan salah penantian, bukan salah hati berharap hanya logika memberi isyarat untuk merumahkan rasa. Hanya rasa yang ku rumahkan, dalam-dalam tidak dengan doa-doa. Semua masih terdengar sama nan indah,menawan..doa tidak akan memudar, meski di terpa jarak.
Berhenti di sini, dan kembali menatap langin yang biru barangkali di sana dapat kutemukan yang lebih baik darimu.
Melepaskan nya pada saat itu mungkin adalah cara terbijak dan aku akan berusaha berjalan seperti biasa dengan segala ketegaran yang ku pondasi dengan kokoh.

Hanya mengharapkan sang khalik memberikan jalan terindahnya dalam keistiqomahan menanti dalam diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar